Get Adobe Flash player

Buku Burung

Monday
March 2017
27
Home Kumpulan Artikel Fluktuasi Populasi

Fluktuasi Populasi Satwa Liar

FLUKTUASI POPULASI SATWA LIAR

Oleh

B Prabani Setiohindrianto

Widyaiswara Pusat Diklat Kehutanan

Abstract

One of the aim of wildlife management is maintaining population equilibrium in the wild. Van Lavieren (1983) defined that wildlife management is the manipulation of wild animal populations and their habitats and interactions between the two in order to achieve a pre-defined objective while Giles, 1969 in Alikodra 2010 stated that wildlife management is the science and art to manipulate of changes and interaction between habitat with wildlife population to achieve wildlife management goals in order they can life and breed normally. Fluctuation of population in the wild very strong depend on environment in the habitat as wel as individu in the population. This article discuss some factors that influence fluctuation of population in the wild naturally.

Key Words : Wildlife, wildlife management, population, habitat.

Pendahuluan

Kehidupan di muka bumi ini sangat dinamis dan selalu berubah menuju keseimbangan antar individu maupun spesies baik dari segi ruang, energi (pakan, sinar matahari dll) maupun interaksi satu dengan lainnya. Hal ini menyebabkan sering terjadinya kompetisi yang sangat ketat baik antar individu dalam spesies maupun antar spesies. Kompetisi ini terjadi sudah berjuta tahun lamanya dan bagi individu atau spesies yang lemah akan cenderung musnah dan muncullah individu dan spesies yang selalu menang dalam kompetisi itu menjadi dominan. Hukum alam ini menyebabkan terjadinya kepunahan berbagai spesies dimasa lampau yang sudah tidak dapat lagi dijumpai pada masa sekarang. Mamut atau dinosaurus misalnya, telah punah ribuan tahun lalu. Terjadinya kepunahan ini bukan saja karena faktor alam akan tetapi kemungkinan terjadinya kompetisi antar spesies juga berpengaruh besar.

Manajemen satwa liar dilakukan dalam rangka mencegah terjadinya kompetisi yang tidak sehat baik antar individu maupun antar spesies baik di suatu kawasan tertentu maupun seluruh muka bumi ini. Van Lavieren (1983) mendefinisikan manajemen satwa liar adalah the manipulation of wild animal populations and their habitats and interactions between the two in order to achieve a pre-defined objective. Dengan demikian manajemen satwa liar diarahkan untuk menjaga keseimbangan populasi atau kepadatan populasi berbagai spesies di suatu wilayah. Selanjutnya dijelaskan oleh Lavieren (1983) bahwa populasi pada wilayah yang tidak terganggu baik terhadap populasi maupun habitat alaminya akan dapat mencapai keseimbangan kepadatan (equilibrium density). Pada keadaan keseimbangan ini tidak akan terjadi kenaikan atau penurunan populasi. Sedangkan pada wilayah yang sering terjadi gangguan akan terjadi fluktuasi populasi. Naik atau turunnya populasi sebanding dengan besarnya tingkat gangguan.

Tujuan Pengelolaan Satwa Liar

Giles, 1969 dalam Alikodra 2010 mendefinisikan pengelolaan satwa liar merupakan suatu ilmu dan seni yang memanipulasikan adanya perubahan dan interaksi antara habitat dengan populasi satwa liar untuk mencapai tujuan pengelolaan yang sudah ditetapkan, yaitu agar mereka dapat hidup dan berkembangbiak secara normal. Selanjutnya Alikodra, 2010 menguraikan tujuan pengelolaan satwa liar dapat dibedakan menjadi :

1. Untuk meningkatkan ukuran populasi, terutama bagi jenis-jenis yang kondisi populasi dan penyebarannya semakin tertekan.

2. Untuk memanen sejumlah individu dari suatu populasi berdasarkan prinsip kelestarian hasil, sehingga individu-individu yang tertinggal mempunyai potensi untuk mencapai produktivitas yang maksimum, misalnya pada pengelolaan taman buru atau penangkaran satwa liar.

3. Untuk mengurangi individu yang jumlahnya berlebihan misalnya pada pengelolaan satwa liar di taman nasional ataupun di suaka margasatwa.

Titik Keseimbangan Populasi

Kurva pertumbuhan populasi di alam mencapai titik keseimbangan dalam keadaan tanpa gangguan pada dasarnya sama dengan kurva pertumbuhan lainya yang dikenal dengan kurva sigmoid. Disebut sigmoid dikarenakan bentuk kurva menyerupai huruf S.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 1. Kurva Pertumbuhan Populasi Dan Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Populasi (sumber : Van Lavieren, 1983)

Kurva pertumbuhan ini terjadi pada setiap populasi di alam sehingga dengan banyaknya populasi spesies di alam kurva ini menjadi lebih rumit dan kadangkala saling tumpang tindih satu dengan lainnya. Semua kurva pertumbuhan populasi tiap spesies di alam saling mempengaruhi satu dengan lainnya membentuk suatu sistem yang sangat kompleks. Adanya pengaruh lingkungan berupa gangguan terhadap habitat maupun terhadap salah satu populasi spesies maka akan terjadi perubahan atas seluruh sistem. Gangguan ini dapat berupa bencana alam atau yang paling banyak terjadi adalah perbuatan manusia seperti perburuan, perusakan habitat dan eksploitasi sumber daya alam secara berlebih. Perubahan yang terjadi di alam dapat berupa perubahan daya dukung dan atau perubahan kepadatan populasi. Adanya pengaruh luar yang ekstrim, kurva pertumbuhan populasi masing-masing spesies dan habitat yang merupakan daya dukung terhadap kehidupan dalam ekosistem akan dapat naik dan turun secara ekstrim sebanding dengan tekanan yang terjadi.

Secara umum fluktuasi populasi dan habitat di alam akibat adanya gangguan yang menjadi tekanan terhadap ekosistem di suatu wilayah dapat digambarkan dalam grafik sebagai berikut :

Gambar 2. Berbagai Bentuk Perubahan Tingkat Populasi (sumber Van Lavieren, 1983)

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Populasi

Populasi hidupan liar di alam mempunyai kecenderungan meningkat akan tetapi sangat jarang bisa mencapai keseimbangan. Habitat suatu jenis satwa harus dapat menyediakan seluruh kebutuhan hidup baik untuk bertahan hidup maupun untuk reproduksi. Akan tetapi pada umumnya habitat di alam tidaklah ideal sebagaimana yang diharapkan karena penyediaan kebutuhan hidup terutama pakan bukanlah tak terbatas. Dari berbagai penelitian dan pengamatan satwa liar diperoleh simpulan-simpulan bahwa faktor yang berpengaruh langsung pada naik atau turunnya populasi di alam adalah :

1. Predation

Sejak dahulu kala satwa-satwa predator besar telah menjadi satwa dominan karena memiliki kemampuan mempertahankan diri lebih dari satwa yang lebih kecil. Hal ini sangat dapat dimaklumi karena habitat hidupnya masih dapat mensuplai seluruh kebutuhan hidupnya secara berlebih. Satwa-satwa mangsa masih dapat dijumpai secara mudah karena merekapun masih dapat mempertahakan kehidupannya bahkan meningkat populasinya karena suplai pakan dari alam yang berkecukupan. Dengan perkembangan jaman selanjutnya, dengan terjadinya okupasi habitat baik dikarenakan adanya migrasi jenis satwa lainnya atau meningkatnya kebutuhan lahan oleh manusia maka suplai pakan bagi jenis satwa mangsa yang umumnya adalah jenis herbivora juga semakin sulit mendapat suplai pakan. Akibatnya terjadi penurunan kualitas hidup satwa yang mempengaruhi juga kemampuan reproduksi dan berakhir pada penurunan populasi secara berkala. Penurunan kemampuan mempertahankan populasi di alam oleh satwa mangsa ini akan semakin diperparah dengan adanya predasi oleh pemangsa yang selalu membutuhkan sumber pakan hewani. Tidak tertutup kemungkinan dengan berkurangnya mangsa maka untuk mendapatkan seekor mangsa, pemangsa harus melakukan upaya lebih. Akibatnya populasi pemangsapun akan cenderung menurun sejalan dengan menurunnya populasi mangsa.

Faktor predasi ini walaupun merupakan faktor yang cukup signifikan menyebabkan penurunan populasi akan tetapi masih dalam batas keseimbangan. Tidak mengherankan bahwa satwa-satwa predator besar dan juga satwa mangsa besar sangat rentan terhadap penurunan populasi dan kemampuan reproduksi karena kompetisi yang demikian kuat di alam. Dengan demikian sangatlah lumrah saat ini sulit untuk menemukan jenis-jenis satwa besar apakah sebagai predator maupun mangsa. Sebagian besar dari antara satwa besar ini telah punah ribuan tahun lalu atau bila saat ini masih tersisa maka hanya dalam jumlah sangat terbatas bahkan menjurus pada kepunahan.

2. Starvation (kompetisi)

Secara harafiah starvation diartikan sebagai mati kelaparan. Kematian individu bahkan bisa juga species tertentu karena kelaparan dapat disebabkan karena kekurangan pakan di dalam habitat. Kekurangan makanan ini dapat terjadi karena berbagai sebab antara lain bencana alam, akan tetapi yang paling sering terjadi di dalam kehidupan satwa liar adalah karena adanya persaingan atau kompetisi. Dengan adanya kompetitor yang masuk ke dalam habitat suatu species sudah barang tentu mengurangi jumlah pakan species asli. Habitat yang ada pada suatu kawasan terbatas dan tidak meluas, sedangkan jumlah individu yang mengkonsumsi resource yang ada bertambah, mengakibatkan terbatasnya jumlah pakan dan ruang yang diperlukan untuk hidup. Kompetisi akan makanan, air dan ruang dengan hadirnya individu atau species baru dapat diprediksi sebagai penyebab kelangkaan sumber daya bagi individu atau species tertentu.

Kompetisi terjadi terhadap satwa liar dibedakan menjadi dua jenis yaitu intra specific yaitu persaingan yang terjadi diantara individu dalam species yang sama dan inter specific yaitu kompetisi yang terjadi antar individu dari species yang berbeda. Kompetisi tidak diartikan hanya terbatas pada perebutan makanan, air dan ruang saja akan tetapi lebih luas daripada itu yaitu perilaku berjuang untuk mendapatkan pasangan pada masa kawin dan perjuangan untuk mendapatkan posisi dalam hirarkhi sosial dalam kelompok. Kuatnya tingkat kompetisi sangat berkorelasi dengan peningkatan jumlah individu yang harus berbagi dengan individu lain baik dalam species atau antar species. Oleh karenanya tingkat kompetisi dapat meningkat dan menurun bergantung dari ketersediaan sumber daya dan ruang yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Bencana alam misalnya dapat menjadikan tingkat kompetisi meningkat. Pada musim kering air sebagai salah satu sumber daya akan menjadi sangat terbatas mengakibatkan kompetisi terhadap resource ini sangat tinggi. Demikian pula pada musim kawin bagi sebagian besar species akan meningkatkan kompetisi antar individu dalam species yang sama.

Naungan (cover) juga dapat menjadi ajang kompetisi pada habitat tertentu. Naungan ini dapat digunakan oleh satwa liar sebagai tempat berlindung, bertelur atau kawin, juga untuk berteduh dan istirahat. Di dalam manajemen satwa liar pengetahuan mendalam mengenai keperluan naungan perlu dipahami untuk melakukan pembinaan habitat dalam bentuk antara lain penambahan naungan dengan penanaman jenis-jenis pelindung.

3. Diseases (Penyakit)

Penyakit alami biasanya tidak menyebabkan suatu species menjadi punah akan tetapi dapat menyebabkan penurunan jumlah populasi atau laju peningkatan populasi (rate of population growth). Kematian karena penyakit tertentu dapat sangat tergantung pada kepadatan populasi. Semakin padat populasi dapat menyebabkan timbulnya berbagai penyakit dan justru akan berakibat penurunan populasi hingga dibawah batas keseimbangan.

Akibat dari penyakit tergantung pada tingkat virulensi penyakit, kondisi fisik baik satwa liar maupun lingkungan dan tingkat ketahanan alami (natural resistance) jenis satwa di dalam habitat. Kondisi ini sangat beragam tergantung pada jenis kelamin dan komposisi kelas usia demikian pula penyakit dapat mempengaruhi komposisi jenis kelamin dan kelas usia dalam populasi. Selain itu, defisiensi nutrisi juga akan sangat berpengaruh terhadap hadirnya penyakit yang terutama disebabkan karena kekurangan vitamin, mineral dan jumlah pakan.

Pada beberapa kasus, racun kimia dapat pula menyebabkan penyakit dan kematian. Racun-racun ini dapat berasal dari racun tumbuhan dan satwa lain, insektisida, herbisida dan limbah kimiawi lainnya. Sakit dapat pula dialami satwa liar akibat luka yang terinfeksi.

Penularan penyakit dari satu individu ke individu lainnya sering pula terjadi tergantung dari ketahanan individu terhadap penyakit dan dapat hilang dengan sendirinya karena siklus periodik wabah. Penularan ini juga dapat terjadi dari induk kepada anak yang masih dalam asuhan. Penularan lain terjadi karena adanya parasit besar dan gigitan serangga. Keadaan wabah penyakit ini harus menjadi perhatian pengelola untuk dapat dipantau apabila terjadi pada satwa liar.

4. Accidents (kecelakaan)

Kecelakaan bagi satwa liar mengakibatkan sakit secara fisik. Hal-hal yang menyebabkan celaka ini antara lain kebakaran, insiden selama migrasi, pohon tumbang, tanah/bebatuan longsor, petir, banjir, gunung meletus dan lain sebagainya. Pada beberapa daerah kecelakaan dapat juga disebabkan karena arus transportasi, bangunan fisik untuk jaringan listrik dan kegiatan pertanian dan kehutanan. namun demikian secara alami kecelakaan disebabkan karena faktor intra specific yaitu perkelahian yang mengakibatkan luka. Tidak jarang pula satwa liar dapat mengalami kecelakaan selama dilakukannya penelitian ilmiah karena penangkapan menggunakan perangkap, mist netting dan penanganan satwa yang tidak tepat.

Hal lain yang menyebabkan kematian terbesar saat ini karena kecelakaan ini adalah illegal hunting and trapping. Perburuan liar dapat menyebabkan penurunan populasi secara drastis seperti penurunan populasi gajah dan badak dalam beberapa dekade terakhir. Perburuan liar dapat merusak komposisi usia dan jenis kelamin (sex ratio) karena hampir setiap perjumpaan akan menjadi sasaran buru yang tujuannya untuk mendapatkan keuntungan dari seluruh bagian-bagian satwa liar secara ekonomis.

5. Control from within the population. (Pengendalian dari dalam populasi)

Di dalam populasi sendiri sebenarnya terjadi persaingan-persaingan yang menyebabkan naik dan turunnya jumlah individu. Fluktuasi jumlah populasi yang terjadi karena persaingan di dalam populasi ini biasanya bergerak naik dan turun secara perlahan. Fluktuasi ini di alam dapat teramati dengan jelas bahwa saat terjadi penurunan jumlah secara drastis akan dengan cepat dapat kembali normal, demikian pula bila terjadi peningkatan jumlah secara drastis juga akan menurun sampai pada kondisi populasi normal. Hal ini berjalan secara alami untuk dapat mengontrol jumlah populasi di dalam habitat.

Kesimpulan

Pengelolaan satwa liar tidak terlepas dari kegiatan pemantauan populasi yang selalu berfluktuasi. Fluktuasi populasi dapat disebabkan oleh faktor dari dalam populasi yang disebabkan karena adanya persaingan antar individu atau dari faktor luar yang terutama disebabkan karena kondisi lingkungan dan daya dukung. Masuknya species lain atau species sejenis yang bermigrasi masuk ke dalam habitat juga menjadi faktor penyebab naik atau turunnya populasi dikarenakan adanya persaingan baik ruang, pakan maupun perebutan kekuasaan. Pengelola kawasan dengan tujuan pembinaan populasi sangat penting memahami berbagai faktor penyebab terjadinya fluktuasi populasi agar dapat mengambil keputusan dan langkah pengelolaan satwa liar dengan tepat.

Daftar Pustaka

Alikodra Hadi S., 2010. Teknik Pengelolaan Satwa Liar Dalam Rangka Mempertahankan Keanekaragaman Hayati Indonesia. PT Penerbit IPB Press. Bogor.

Van Lavieren, LP., 1982. Wildlife Management In The Tropics With Special Emphasis on South East Asia. A Guide Book To The Warden Part 1. Introduction, Taking Fieldnotes & Wildlife Census Methods. School of Environmental Conservation Management. Bogor.

Van Lavieren, LP., 1983. Wildlife Management In The Tropics With Special Emphasis on South East Asia. A Guide Book To The Warden Part 2. Dynamic of Wildlife Population, Sex and Age Structure, Reproduction, Growth and Condition. School of Environmental Conservation Management. Bogor.

 

Last Updated (Monday, 19 January 2015 03:32)

 

Login Form



Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday182
mod_vvisit_counterYesterday186
mod_vvisit_counterThis week496
mod_vvisit_counterLast week2736
mod_vvisit_counterThis month9942
mod_vvisit_counterLast month7543
mod_vvisit_counterAll days491502

We have: 71 guests online
Your IP: 54.204.249.55
 , 
Today: Mar 27, 2017