Get Adobe Flash player

Buku Burung

Tuesday
April 2017
25
Home Kumpulan Artikel Cerpen Hanya Tinggal Abu Kenangan

Hanya Tinggal Abu dan Keriduan

Hanya Tinggal Abu dan Kerinduan

Pertengahan tahun 2004 adalah saat dimana aku dan dia tak lagi bertemu, semuanya berakhir? Tidak! Tidak yang kuharapkan. Sebelum aku benar-benar pergi dari desa itu, tak lupa aku berkunjung ke tempat pertama kali kami bertemu. Dimana ia menyapaku dengan senyuman, lalu mengajakku bermain. Aku menuliskan nama kami di lantai kayu rumah kecil. Dan sekelebat kenangan itu teringat.

Februari 2003, Aku menerawang kesekeliling rumah itu, Terdapat jendela kecil di samping pintu utama. Rak buku kecil di sudut rumah dan meja belajar kecil di tengah rumah. Dindingnya penuh dengan gambar khas anak kecil, jelek tapi menarik. Beberapa telapak tangan dengan warna berbeda di dinding menambah keindahan rumah kecil ini. Tangganya terbuat dari tali tambang menggantung setinggi batang utama pohon. Yahh, ini rumah pohon milik Ane, begitu ia memperkenalkan diri tadi. Anak perempuan dengan rambut ikal menggantung sebahu, matanya berwarna coklat dan bulat, wajahnya bulat dengan pipi yang tembem. Wajahnya sangat lucu ditambah dengan gigi seri yang lebar. Tubuhnya tak jauh berbeda dengan tubuhku. Kiranya dia sebaya denganku. Umurku waktu itu 7 tahun.

Rumah pohonnya terletak di tengah hutan dekat sungai. Bukan hutan yang berbahaya, taman di tengah hutan lebih tepatnya. Banyak pohon-pohon menjulang tinggi. Namun bunga warna warni juga terhampar indah di dekat pohon, dimana rumah itu dibangun. Tidak seperti hutan di televisi yang pernah saya nonton bersama ibu. Ini sangat indah, sangat indah.

“Dinda, aku mau bajunya warna ungu dan pitanya warna kuning” ia berkata sambil memilih pensil warna di hadapannya. Kami sedang menggambar waktu itu, dan ia menggambar anak perempuan yang sedang tersenyum yang membawa setangkai bunga.

“iya, pasti cantik” ujarku dengan pelan. Kami dua orang yang berbeda, Ane si anak perempuan yang ceria dan ramah sedangkan diriku anak pemalu dan pendiam.

Pertemanan kami semakin hari semakin erat. Setiap hari kami bermain di taman hutan. Main petak umpet, main tali berdua, main boneka, menggambar, dan belajar bersama. Kami menghabiskan waktu bersama. Sampai akhirnya ayahku mengajak ibu dan aku pindah ke kota Makassar dan tinggal bersama sanak keluarga ayah disana.

Itu Tujuh belas tahun yang lalu, sebelum aku mendengar kabar yang menyedihkan itu saat ini. September 2015 di depan televisi, aku berdiri mematung tanpa berkedip membaca Hot Line News yang mengatakan bahwa “Kebakaran Hutan Di Riau Merenggut Satu Nyawa”, aku semakin kalut ketika reporter berita menyebut satu nama yang sangat kukenal. Nama seseorang yang kurindukan belasan tahun ini, seseorang yang sudah kutelusuri di mesin pencari untuk menemukannya. Anindita Wijaya. Aku belum sempat melihat wajah dewasanya, apakah masih selucu dulu, apakah pipinya masih seperti dulu, apakah rambutnya masih ikal, atau dia sedah berubah, semakin cantik?

Cairan bening lolos begitu saja dari mataku. Belasan tahun aku mencari keberadaannya, setelah dia dan keluarganya juga pergi, sebulan setelah aku pergi. Aku kehilangan kontak semua tentang dia. Seluruh akun sosmed tak ada yang sesuai dengan namanya dan sekarang aku mengetahuinya. Tapi tidak dengan begini caranya. Mengetahui keberadaannya setelah dia tiada? Mengetahui keadaannya yang mengenaskan? Tahu bahwa dia dilahap oleh si jago merah? Siapa yang melakukannya? Siapa yang tega? Tempat yang indah itu harus hilang? Dan yang paling menyakitkan kenapa, kenapa harus membuat ulah yang merenggut nyawa orang. Orang yang aku rindukan. Orang yang aku belum sempat melihat wajahnya diusia yang sekarang. Aku belum sempat berterima kasih karena telah menjadi sahabat kecilku.

Seminggu setelah berita itu terdengar, aku memutuskan untuk kembali ke Riau. Mencari tahu kebenaran. Aku berharap hanya namanya yang sama. Aku berharap dia bukan Anindita yang aku kenal. Dia bukan Ane. Namun , harapan tak sesuai kenyataan. Sesampai disana aku temui ibunya lalu beliau menceritakan semuanya. Semua, sampai akhirnya yang saya ketahui bahwa ia pergi mengunjungi rumah pohon untuk mengambil gambar yang kami simpan di sana karena merindukan diriku. Dan disaat yang bersamaan tiba-tiba api dengan cepat melahap semua pohon yang ada termasuk rumah pohon. Tak ada yang mengetahui keadaan Ane disana. Tempat yang indah dulu kini rata dengan tanah, dimana aku berdiri sekarang. Dulu yang warnanya hijau dan warna warni karena bunga yang cantik kini berwarna hitam abu-abu. Dulu yang sejuk kini berubah menjadi polusi. Dulu yang meyehatkan kini berubah menjadi penyakit. Menyiksa, menyakitkan, dan membunuh.

Seorang anak kecill duduk menunduk di antara sisa-sisa kebakaran. Tubuhnya bergetar naik turun.

“Dik, kamu tak apa?” aku menyapa dengan pelan, takut iya akan lari ketakutan melihat orang baru.

“Ane.” Suara anak kecil dari arah belakangku membuat anak yang tertunduk tadi mendongak. Anak yang pertama kali mengajakku bermain dulu, dan anak yan satunya itu aku. Aku waktu kecil. Ane berlari menghampiri Dinda kecil, lalu memeluknya.

“aku akan merindukanmu Dinda, kau teman terbaikku,” ucap Ane disela tangisnya

“kau juga yang terbaik. Aku akan selalu mengingatmu Ne” pinta Dinda sembari memeluk Ane.

“Oh iya, gambar. Kita simpan gambar itu. Dan jika nanti kamu kembali kita ambil lagi” seru Ane sambil menghapus air matanya. Dinda hanya mengangguk dan mengikuti langkah Ane.

Aku ingat kejadian itu, ketika aku mengunjungi taman hutan sebelum kepergianku ke Makassar. Salam perpisahan waktu iu. Namun, sekarang pertemuan tak akan terjadi lagi. Seseorang yang ingin kutemui tak akan datang lagi. Gambar yang ingin kami ambil sudah tak ada, hanya tersisa abu. Tak seharusnya kamu pergi secepat ini. Tak seharusnya api itu mengambil dirimu juga.

Aku tak berhak menyalahkan siapa-siapa karena ini semua terjadi karena sudah digariskan oleh TUHAN untuk kita. Namun, tak bisakah kita menyelamatkan apa yang telah selamat walaupun itu tidak sempat menyelamatkan Ane untukku. Setidaknya, takkan ada banyak anak seperti Ane. Semoga Ane tersenyum di Surga, sama seperti pertama kali kami bertemu.

 

Last Updated (Wednesday, 27 April 2016 06:42)

 

Login Form



Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday97
mod_vvisit_counterYesterday100
mod_vvisit_counterThis week337
mod_vvisit_counterLast week3027
mod_vvisit_counterThis month5995
mod_vvisit_counterLast month11437
mod_vvisit_counterAll days498992

We have: 71 guests online
Your IP: 23.20.50.242
 , 
Today: Apr 25, 2017