Get Adobe Flash player

Buku Burung

Tuesday
December 2017
12
Home Kumpulan Artikel Cerpen Lahirnya EL Nino

Lahirnya EL Nino

Lahirnya El Nino

 

“Bu, Bapak ke tambak dulu,” pamit Pak Hamzah sambil mengelus-elus perut istrinya.

“Iya pak, hati-hati yah.”

Hariani mengantar suaminya sampai ke depan pintu rumah dengan kipas di tangan kanan yang tak henti-hentinya dikibaskan serta tangan kirinya mengelus-elus perutnya yang tinggal beberapa hari lagi mengeluarkan anak mereka.

“Jangan lupa jalan-jalan biar nanti gampang lahirinnya.”

Hariani mengangguk kemudian menyalami suaminya. Hariani mengamati suaminya yang mulai menjauh, laki-laki yang dijodohkan dengannya oleh orang tuanya, dengan menggunakan kaos oblong dan celana training kumuh laki-laki itu tetap tampan di mata Hariani. Dia adalah laki-laki yang penuh tanggung jawab dan pekerja keras.

Laki-laki yang cuma tamatan sekolah menengah atas itu meminang Hariani dengan lima hektar tambaknya, tambak yang kini menjadi mata pencahariannya sebagai petani garam. Walau Cuma tamatan SMA, Hamzah adalah laki-laki yang cerdas, terbukti dengan beberapa buku yang dia punya dan seringnya dia membaca buku.

“Kebakaran hutan yang menimbulkan banyak asap di beberapa daerah ini diduga karena musim kemarau yang sangat panjang. Tahun ini memang diperkirakan musim kemarau akan belangsung hingga Bulan November mendatang dan itu menyebabkan kekeringan di mana-mana. Ini juga dikaitkan dengan adanya gejala badai El Nino.”

Suara pembaca berita di salah satu stasiun televisi terdengar hingga keluar rumah, Hariani tersadar kemudian memilih masuk ke rumah. Walau masih pagi, cuaca di luar rumah saat musim kemarau seperti ini seperti cuaca di siang hari pada musim normal, juga di hadiahi angin yang sangat kencang untuk daerah pesisir pantai kediaman mereka.

Hariani memilih duduk di depan televisi sambil menyimak berita mengenai kabut asap yang lagi marak. Awalnya dikira karena musim kemarau yang panjang sehingga hutan mudah terbakar, kekeringan yang menyebabkan sulitnya air untuk memadamkan kebakaran. Sekarang, kabarnya ada yang sengaja membakar hutan untuk memudahkan pembangunan perusahaan. Kesengajaan yang akan membuat suatu pihak sejahtera dan pihak lain sangat menderita.

Hariani mengusap-usap lagi perutnya, tangannya juga tidak henti-hentinya mengibaskan kipas. Angin munson nampaknya benar-benar membawa sedikit sekali uap air. Ini menyulitkan Hariani menentukan, cuaca memang lagi panas-panasnya atau rasa panas yang terjadi didada bagian bawah atau perut bagian atas, keluhan ibu hamil.

Sambil terus menyimak berita, Hariani kemudian berpikir tentang bakal nama anaknya.

***

“Pak Hamzah, garamnya lagi banyak yah,” tegur ibu Suriani ketika dia melintas di depan rumahnya.

“Alhamdulillah, Bu. Dampak positif dari musim kemarau.”

“Rezeki si calon bayi yah Pak,” lanjutnya.

Hamzah cuma mengangguk sambil tersenyum kemudian pamit, “kalau begitu saya permisi dulu, Bu.”

***

“Pak, pak Hamzah,” teriak Ibu Suriani. Sambil menata napasnya dia kembali berbicara, “Suriani…”

“Istri saya kenapa Bu?” Hamzah memotong saja perkataan Ibu Suriani.

“Perutnya udah mules itu, udah mau ngelahirin, cepat!”

Ibu Suriani langsung berbalik kembali ke arah rumah Hamzah begitu menyelesaikan kalimatnya, bahkan tanpa menunggu reaksi Hamzah. Ibu Suriani yang merupakan tetangga mereka juga kerap kali menjadi bidan di desa itu. Karena letak puskesamas jauh, keadaan seperti tiba-tiba ingin melahirkan jadi tertolong berkat keahlian Ibu Suriani ini.

***

“Bu, nama anak kita siapa?” tanya Hamzah ketika baru saja selesai mengadzani anaknya.

“Katanya Nino,” jawab Ibu Suriani yang baru kembali dari dapur mencuci tangannya.

“Iya, Pak. El Nino, tadi saya dengar berita ada kata-kata El Nino itu. Gara-gara musim kemarau tambak bapak banyak penghasilannya kan? Katanya itu gara-gara El Nino itu, ditambah kita punya bayi laki-laki di saat rezeki lagi ada,” kata Hariani mengiyakan.

“Memang benar sih, Bu. Menurut yang pernah Bapak baca, kata itu berasal dari Spanyol yang artinya anak laki-laki.”

“Wah, iya Pak? Saya dak kepikiran sampai ke sana.”

“Iya, tapi kita tambahkan nama yang islami yah Bu.”

Hariani mengangguk sambil tersenyum penuh arti.

“El nino itu yang katanya musim kemarau panjang yah? Semoga Nino ini pemberi rezeki yang panjang yah,” Ibu Suriani kembali berbicara sambil menyiapkan selimut bagi si bayi. “Musim kemarau seperti ini membawa kesejukan bagi keluarga baru,” lanjutnya.

 

Last Updated (Wednesday, 27 April 2016 07:01)

 

Login Form



Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday328
mod_vvisit_counterYesterday103
mod_vvisit_counterThis week477
mod_vvisit_counterLast week1229
mod_vvisit_counterThis month1931
mod_vvisit_counterLast month5881
mod_vvisit_counterAll days556079

We have: 51 guests online
Your IP: 54.82.79.109
 , 
Today: Dec 12, 2017