Get Adobe Flash player

Buku Burung

Tuesday
June 2018
19
Home

Melestarikan Burung Maleo

Burung Maleo atau Macrocephalon Maleo,
merupakan burung endemik yang hanya bisa dijumpai di Kepulauan Sulawesi. Burung ini bisa ditemukan di hutan pegunungan dan hutan pantai, di Sulawesi Tengah.

Sepintas penampilan burung ini biasa saja,
selain jambul di kepalanya, burung ini mirip dengan ayam. Dari penampilannya,
sulit dibedakan antara burung jantan dan betina.

Daya tarik burung Maleo justru pada telurnya,
yang ukurannya lima kali lebih besar dari telur ayam. Inilah yang menyebabkan
telur burung Maleo banyak diburu orang. Sehingga kelestariannya terancam.

Telur burung Maleo memang memiliki nilai
ekonomis, yang lebih tinggi dibandingkan telur ayam, karena bentuknya yang
lebih besar. Harganya di pasar gelap bisa mencapai 50 ribu rupiah per butir.

Burung Maleo sebenarnya dapat bertelur dua
kali dalam sebulan. Namun setiap bertelur, hanya satu telur yang dihasilkan.

Sang induk meletakkan telurnya di dalam lubang
yang berpasir, yang dekat dengan sumber air panas. Oleh karena itu, habitat
asli burung ini berada di sekitar sumber air panas, yang tanahnya berpasir.

Dari hasil riset The Nature Conservancy,
sebuah LSM internasional yang bergerak dalam konservasi lingkungan, dari
sepuluh habitat burung Maleo di Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah,
kini hanya tinggal 4 habitat saja. Sisanya telah rusak dan punah.

Penyebab utama terancamnya kelestarian burung
Maleo tidak hanya telurnya diambil manusia, tetapi juga ganggan dari predator
alaminya, yakni biawak dan tikus hutan.

Selain itu, pembukaan lahan hutan untuk
perkebunan, dan kebakaran hutan juga menjadi penyebab rusaknya habitat asli
burung Maleo. Salah satu habitat burung Maleo yang masih dapat dijumpai di
kawasan Sulawesi Tengah adalah di Saluki, kawasan Taman Nasional Lore Lindu.

Untuk mencapai Saluki, dapat ditempuh dengan
menggunakan mobil hingga Desa Tuva, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Donggala.

Desa ini berjarak sekitar 45 kilometer arah
selatan dari Kota Palu, ibukota Sulawesi Tengah. Selepas dari Desa Tuva,
perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan sepeda motor sejauh 4 kilo meter.

Di Balai Taman Nasional Lore Lindu di Saluki
inilah dilakukan upaya pelestarian terhadap burung Maleo. Lokasi penangkaran
terletak di kawasan habitat aslinya, karena hanya di tempat semacam inilah
burung maleo dapat berkembang biak.

Di lokasi ini terdapat sembilan kandang
penangkaran. Telur burung Maleo disimpan di dalam lubang tanah yang berpasir di
dalam kandang, dan akan menetas sendiri dalam waktu 76 hingga 90 hari.

Penangkaran burung Maleo ini turut melibatkan
masyarakat sekitar. Salah seorang diantaranya adalah Ambo Tuo.

Kakek tiga orang cucu berusia 60 tahun ini,
bersama 10 orang warga lainnya secara sukarela membantu polisi hutan menjaga
kelestarian burung Maleo. Di 9 tempat penangkaran di Saluki ini terdapat
sekitar 178 ekor burung Maleo.

Sementara di seluruh Taman Nasional Lore
Lindu, jumlah populasi burung Maleo diperkirakan mencapai 500 ekor.

Menurut Herman Sasia, koordinator lapangan
pelestarian burung Maleo Balai Taman Nasional Lore Lindu, gangguan terbesar
dalam melestarikan burung Maleo datang dari predator alamnya, yakni biawak.
Selain itu tangan jahil manusia yang mengambil telur burung Maleo.

Kawasan Saluki di Taman Nasional Lore Lindu
ini merupakan salah satu tempat penangkaran burung Maleo, yang bisa dijadikan
model bagi penyelamatan burung langka.

Kerjasama antara petugas dan warga setempat
terbukti mampu menjaga kelestarian burung Maleo.(Indsib)

Last Updated (Saturday, 08 February 2014 17:52)

 

Login Form



Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday109
mod_vvisit_counterYesterday93
mod_vvisit_counterThis week251
mod_vvisit_counterLast week1518
mod_vvisit_counterThis month2666
mod_vvisit_counterLast month4916
mod_vvisit_counterAll days609297

We have: 72 guests online
Your IP: 54.224.235.183
 , 
Today: Jun 19, 2018